SESAL YANG RAPUH
SSESAL YANG RAPUH
Sosok itu.............
Dialah yang membuat aku seperti saat ini
Dialah yang mengajar ku untuk belajar mengenal dunia..
Dialah yang mampu memberiku sebuah arti hidup yang nyata
Dan sosok itu membuatku merasa sepi sesaat dia telah pergi.
Hari ini, detik ini, dan saat ini
Ku bersimpuh di atas rumahmu..
Di atas kuburan yang telah kau jadikan rumah untuk mu..
Ayah.. terimalah maaf ku..
Aku menyesal tak dapat membahagiakan mu..
Aku mencoba untuk menahanmu..
tapi aku tak mampu..
hanya Dia yang punya kuasa atas segala Bumi..
Ingin ku berteriak untuk memanggilmu.
Namun, sia-sia kau tak lagi ku dapati....
Ayah.. masihkah kau mendengarku??
mengertikah kau akan derita yang ku punya??
mendengarkah engkau saat aku berdoa untukmu??
Bahagiakah engkau disaat aku merasa kebahagiaan disini??
Ku ingin membahagiakanmu..
ku ingin jadi seperti yang kau mau..
aku ingin buktikan pada mereka yang telah mencelah,
menghujat, dan menghina pada masa lampaumu.
saat sesal benar-benar rapuh dalam hati
saat itulah aku harus mampu..
walau aku tak punya banyak waktu..
tapi aku masih punya banyak kesempatan berbenah diri..
Akan aku buktikan walau kau telah tiada
mereka tak lebih hebat darimu ayah
kau Ayah yang luar biasa bagi ku
tak lagi ku sia-sia kan cita dan harapanmu..
Aku akan bangkit dan terus berjuang
demi seorang Ayah yang pernah aku sia-sia kan
tak akan ku buat kau bersedih lagi
seperti saat engkau masih ada disini..
Dahulu orang-orang menjauhimu..
hanya karena sakit dan kemiskinan yang kau punya saat itu..
mereka jahat,.. dan sangat kejam..
tapi aku tak akan hanya diam..
akan ku balas mereka dengan doa, dan kebaikan
yang telah kau ajarkan pada ku..
itu akan membuatmu tenang disana..
Dan, sesal yang rapuh akan mereka dapati disini..
Damailah disana Ayah..
aku mencintaimu.... dan aku tak seburuk yang kau tau..
aku sudah tumbuh dewasa saat ini..
dan akan ku bahagiakan engkau..
ini janji ku dan harapanmu..
Disaat masa lalu begitu kelam.....
masa depanlah yang harus kita cerahkan.
02.08.2014
4myDad.
MARLYNA AZUMI SITUMEANG.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar